Sabtu, 12 Maret 2011

Bencana Dalam Kacamata Islam



Sahabat seimanku

Kalau kita mentadabburkan ayat-ayat Al-Qura’an terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi Nuh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini.

Pertama, cara pandang orang-orang kafir dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya. Cara pandang orang-orang sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.

Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, dii antaranya dalam surat Ghafir / 40 : 21 – 27 :
"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah" (21)

Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya (22)

Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(23) kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta."(24)
Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka." Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka) (25)

Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi."(26) Dan Musa berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab."(27) (Q.S. Ghafir : 21 -27)

Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai mereka jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar lebih dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.

Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam beriteraski dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa hidup di dunia dan juga di akhirat kelak. Allah menjelasakannya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 155 – 157 :

Al-Qur’an dengan tegas menjelasakan bawa sebab utama terjadinya semua peristiwa di atas bumi ini, apakah gempa bumi, banjir, kekeringan, tsunami, penyakit tha’un (mewabah) dan sebagainya disebabkan ualah manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan pelanggaran sisitem Allah yang ada di laut dan di darat, maupun yang terkait dengan sistem nilai dan keimanan yang telah Allah tetapkan bagi hambanya.

Semua pelanggaran tersebut (pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad Saw), akan mengakibatkan kemurkaan Allah. Kemurkaan Allah tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti gempa bumi, tsunami dan seterusnya.

Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat Allah, semakin besar pula peristiwa alam yang Allah timpakan pada mereka. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an :

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut / 29 : 40)

Sahabatku di mana saja berada

1. Semua peristiwa dan bencana yang kita saksikan di atas bumi dan alam semesta ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melaikan sesuai kehendak dan ketentuan Tuhan Penciptanya, yakni Allah Ta’ala.

2. Berbagai persitiwa dan bencana itu disebabkan kedurahakaan dan kesombongan manusia terhadap Allah dan syari’at Allah serta berbagai dosa-dosa yang mereka lakukan. Lalu Allah menurunkan berbagai azab atas mereka.

3. Orang-orang kafir, sombong dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya melihat berbagai peristiwa tersebut murni hanya sebagai peristiwa alam yang terlepas dari kehendak dan sekenario Allah. Mereka tidak dapat mlihatnya sebagai sebuah azab, teguran atau cobaan. Melaikan hanya menambah kesombongan dan kekufiran kepada Allah. Sikap yang mereka kembangkan juga seakan melawan kehendak Alla. Namun sayang, sepanjang perjalanan umat manusia, belum ada satupun manusia yang mampu mengalahkan dan melawan kehendak Allah, kendati Fir’au yang begitu hebat memiliki semuak kekuatan saat berkuasa, namun tenggelam juga di laut merah dan bangkai dapat kita saksikan sekarang di sebuah useum di Mesir. Demiakian juga dengan Negara-negara maju teknolohi hari ini seperti jepang, Eropa dan Amerika. Belum pernah mereka mampu menahan gempa bumi, tsunami dan berbagai bencana yang Allah turunkan di negeri mereka. Semuanya lemah dan tak berdaya di hapadan kehendak Allah.

4. Sebaliknya, orang-orang beriman akan melihat semua peristiwa yang terjadi merupakan ujian dan teguran dari Allah. Mereka akan segera kembali dan bertaubat pada Allah. Semakin taat pada aturan Allah, baik yang terkait dengan sunnatullah maupun syari’at Allah.

5. Sistem Allah terkait dengan imbalan (pahala) dan hukuman (punishment) bukan hanya terjadi di akhirat, melainkan sudah Allah terapkan sejak kita hidup di dunia. Setiap kebaikan yang dibangun di atas dasar iman pada Allah dan ketaatan pada-Nya dan Rasul-Nya akan berakibat keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat

" Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(96) Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?(97) Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?(98) Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.(99) (Q.S. Al-A’raf / 7 : 96 – 99)

Semoga kita semakin hari semakin menjadi manusia yg berkualitas,di mata manusia. terlebih di mata ALLAH swt.

wallohualam biswab.

wassalam.


cat. di rangkai dari berbagai sumber islami.

Jumat, 20 Agustus 2010

Modern dalam krisis


Mereka tak percaya tentang akhirat. Mereka hanya percaya dan menyakini yang nyata, dirasakan langsung manfaatnya, dan bernilai materi bagi kehidupannya.

Masyarakat modern diambang kehancuran total, karena mereka tak tahan menghadapi krisis, yang sekarang ini terjadi secara global. Krisis ekonomi secara global, menyebabkan mereka tak banyak mempunyai pilihan, kecuali melakukan bunuh diri dan alkohol. Di Amerika, Jepang, Uni Eropa, dan Rusia, trend melakukan bunuh diri terus meningkat. Betapa akibat krisis ekonomi yang melanda negeri-negeri mereka telah mengakibatkan perubahan yang radikal dalam hidup mereka.

Mereka kehilangan pekerjaan, mereka kehilangan pendapatan, mereka kehilangan rumah mereka, yang harus diserahkan kepada kreditor, satu-satunya penghasilan mereka adalah dana pemerintah, yang kian menipis. Perlahan-lahan di negeri yang maju secara ekonomi itu, jaminan sosial terus berkurang. Mereka menghadapi keputusasaan secara massal. Agama (Kristen/Katholik) tak dapat lagi menjadi solusi bagi kehidupan mereka.

Karena mereka sudah meninggalkan agama mereka, dan tidak tertarik lagi terhadap agamanya, karena agama yang ada, tidak menjawab tantangan yang mereka hadapi.
Inila krisis yang terjadi di abad modern ini. Krisis yang sangat komplek dan mempunyai dampak yang sangat dalam bagi kehidupan mereka. Krisis yang terus menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang ada di kalangan masyarakat Barat, yang menganjut paham sekulerisme. Mereka telah kehilangan kehidupan yang nyata. Krisis kemanusiaan ini telah menyeret bagi masa depan mereka secara menyeluruh. Krisis yang ada sekarang terjadi di negeri-negeri Barat, bukan hanya krisis ekonomi semata, tetapi krisis terhadap kepercayaan yang mereka anut, yaitu agama yang sudah lapuk, dan tidak lagi mempunyai relevansi masa depan mereka.

Krisis yang kini melanda kehidupan masyarakat Barat, menjalar ke negeri-negeri Muslim, terutama nilai-nilai yang mereka anut itu ditularkan kepada keluarga-keluarga Muslim, yang terinfeksi dengan berbagai budaya Barat, yang sudah lagi bermakna bagi kehidupan. Kehidupan bebas, bebas melakukan kemunkaran, maksiat, durhaka, dan perbuatan yang terkutuk lainnya, muncul bersamaan dengan interaksi antara masyarakat Muslim dengan Barat melalui berbagai sarana modern sekarang ini. Tak pelak lagi, masyarakat Muslim perlahan-lahan ikut menuju ke lembah kehancuran. Karena mereka ‘beritiba’ (mengikuti) kehidupan yang sesat dan fasad dari masyarakat Barat itu.

Apakah yang dapat menyelamatkan kehidupan mereka dari kehancuran itu? Hanya ada satu jalan, yaitu mengubah secara radikal nilai-nilai yang mendasari kehidupan mereka yang atheis itu dengan Islam. Selama mereka berada dalam kekafiran dan kefasikan mereka, maka mereka tak akan pernah dapat keluar dari krisis yang sekarang ini. Krisis yang terjadi secara global saat ini, karena disebabkan mereka menjadikan nilai-nilai buatan manusia yang rusak dan bathil menjadi pedoman mereka. Mereka tidak mau belajar dari sejarah kehidupan mereka yang sudah berlangsung dengan penuh paradok, penuh dengan konfli, dan peperangan, karena budaya paganisme, yang berakar dari budaya Yahudi dan Nasrani. Inilah masalah yang paling mendasar saat.

Bila sekarang ini masyarakat Barat sudah meninggalkan agama mereka (Kristen/Katholik), dan mereka memilih menjadi seorang atheis, dan terjerumus ke dalam lembah nista yang bernama materialisme itu, maka tak ada yang dapat menolong mereka, dan menyelamatkan hari depan mereka. Sebuah kehancuran total, dan hanya menunggu waktu.

Renungkanlah kisah kehidupan Ar-Rabi’, yang dalam keadaan lemah, penuh dosa, dan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, dan hanya menanti ajalnya.

Sampai ada seorang shahabatnya bernama Hilal, berkata kepadanya, “Sekarang di Kufah ini ada Tabib yang pandai. Apakah Sheikh mengizinkan kami memanggilnya untuk anda?” Lalu jawab Ar-Rabi’ , “Wahai Hilal, akut tahu bahwa obat itu adalah benar-benar berkasiat, tetapi aku belajar dari kaum ‘Aad dan Tsamud, penduduk Rass dan abad-abad diantara mereka. Telah kudapati bahwa mereka sangat gandrung dengan dunia, rakus dengan segala perhiasannya. Keadan mereka lebih kuat dan lebih ahli dari kita. Di tengah-tengah mereka banyak Tabib, namun tetap saja saja ada yang sakit. Akhirnya tak tersisa lagi yagn mengobati maupun yang diobati karena binasa.

Seorang shahabatnya bernama Mundzir bertanya, “Kalau demikian, apa penyakit yang anda derita wahai Sheikh?”
Ar-Rabi, “Penyakitku adalah dosa-dosa yang memenui kehidupanku”.
Mundzir, “Langtas apa obatnya?”
Ar-Rabi’ , “Obatnya adalah istighfar.”
Mundzir, “Bagaimana bisa pulih kesehatan Sheikh?”
Ar-Rabi’ , “Dengan bertaubat, kemudian tidak mengulangi dosanya (sambil menatap kedua tamunya), dosa yang tersembunyi .. dosa yang tersembunyi .. waspadalah kalian terhadap dosa yang meski tersembunyi dari orang-orang, namun jelas bagi Allah Ta’ala, segeralah datang obatnya!”
Mundzir, “Apa obatnya?”
Ar-Rabi, “Dengan taubat nasuha, lalu dia menangis sampai janggutnya basah oleh air matanya.
Mundzir, “Mengapa Sheik menangis?”
Ar-Rabi, “Agaimana aku tidak menangis? Aku pernah berkumpul bersama suatu kaum (yakni para Shahabat), di mana kedudukan kami dibanding mefreka seakan sebagai pencuri”.
Masyarakat modern telah kehilangan kendali terhadap mereka, dan hawa nafsu telah melumpuhkan mereka, sehingga mereka menjadi bagian dari kerusakan yang menyeluruh itu.
Saatnya kaum Muslimin merenungkan langkah-langkah kehidupannya, dan menyelamatkan hari depannya, dan menjauhkan dari budaya materialisme yang sudah masuk ke dalam darah, daging, serta sunsum, yang merusak sendi-sendi kehidupan, dan meninggalkan kesesatan budaya Barat, dan kembali kepada agama fitrah (Islam). Wallahu’alam.

Minggu, 08 Agustus 2010

Fananya Dunia


Dunia, alam yang fana. Bencana dapat terjadi kapan saja. Ajal pun dapat datang tanpa diduga. Kecelakan lalu-lintas, kerusakan mesin pesawat, dan tenggelamnya kapal sering merenggut nyawa seketika. Gempa bumi dan tsunami dapat terjadi ketika siang atau pun malam.

Harta yang dikumpulkan tak kekal dalam genggaman. Terkadang dia meninggalkan pengumpulnya, dan tak jarang pengumpulnya meninggalkan dia.

Maka beruntunglah mereka yang segera membelanjakan hartanya di jalan Allah. Sungguh menyesal mereka yang belum sempat.

Rasul pernah langsung masuk ke rumah beliau setelah selesai sholat berjama’ah. Setelah beberapa saat, beliau kembali ke Masjid dan berdzikir serta berdoa. Setelah itu, bertanyalah shahabat kepada beliau perihal kejadian itu. Rasul menjelaskan bahwa ketika shalat, beliau teringat akan sedikit emas yang belum beliau sedekahkan. Kalau kita, ada uang 1 juta di rumah kita, bukannya ingin kita sedekahkan. Tetapi kita fikirkan akan diputar dalam perniagaan dunia atau akan dibelanjakan untuk hal keduniawian.

Punya uang 4 juta rupiah, mungkin untuk modal usaha, untuk ditabung, atau beli laptop. Punya uang 2 juta, beli BlackBery.

Aqal kita tahu bahwa itu semua akan sirna. Namun nafsu memang cenderung kepada keni’matan yang instant. Tak peduli akan kesudahannya. Aqal dan nafsu sering berperang. Pada kebanyakan orang, nafsunya sering menjadi pemenang.

Banyaknya perzinaan, peredaran narkoba, dan berbagai kejahatan lainnya karena aqal sering dipecundangi oleh nafsu duniawi. Kurang berani bersedekah yang pasti kekal, namun begitu semangat untuk membeli handphone dsb. Itulah tanda kurang kuatnya iman dalam dada.

Tak jarang, benda duniawi yang dibela oleh nafsu malah menjerumuskan kita kepada kelalaian dari mengingat Allah. Bahkan sering pula benda-benda itu menjerumuskan kita kepada dosa yang nyata.

Keindahan dunia memang menyilaukan jika kita tak punya kaca mata iman yang bagus. Ia sering menipu penglihatan kita. Kita memandangnya seperti air yang menghilangkan dahaga. Padahal ia adalah api yang siap menghanguskan.

Seindah apa pun milik kita di dunia, sebanyak apa pun harta kita di dunia, semua itu akan sirna. Hanya Allah dan apa yang di sisi-Nya saja yang kekal abadi.

Pernahkah Anda bermain video game simulasi kehidupan? Setinggi apa pun pencapaian kita dalam Monopoly, Sim City dsb, semua itu tidaklah nyata dan tidak lebih berharga dari satu sayap nyamuk.

Jika ada yang siap membeli uang monopoly Anda dengan sebuah rumah sungguhan, akankah Anda menolak tawaran itu atau menerimanya? Jika ada yang siap membeli karakter Anda di game Point Blank dengan harga 2 milyar rupiah, akankah Anda menolak tawaran itu atau menerimanya?

Jika ada yang siap membeli jiwa raga dan harta Anda yang fana dengan kehidupan mewah yang kekal abadi, akankah Anda menolak tawaran itu atau menerimanya?

Hanya anda masing2 yg bisa menjawabnya.
wallohhualam biswab

Tampilan slide

Loading...